Aku Menjadi Bahan Coli

Bokep JepangAugust 30, 2018

FilmBokepJepang – Aku tahu bahwa aku dan aku tahu dari dalam, kulepas T Shirt tanpa lengan yang kupakai dan kulemparkan begitu saja di tempat tidur. Payudaraku yang ranum berwarna muda kecil di puting dan sekitarnya tampak menggairahkan.

Aku memang sejak kecil tidak suka memakai bra hingga kini aku jadi tidak memiliki BH barang-barang, hingga begitu T Shirt kutanggalkan maka payudaraku pun langsung mencuat, ukurannya memang sedang-sedang saja.

namun bentuknya padat dan menggairahkan sampai dapat membuat setiap lelaki saat makanpun, apa lagi yang ditunjang postur tubuhku yang seksi dengan tinggi 170 centimeter, yang cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita.

Kuperosotkan dan kulepas hot pantsku yang mini model berat di bagian bawah, hingga tampak jelas model CD G String warna merah yang saat ini kupakai. Bentuknya sangat mini dengan tali nilon yang melilit di pinggangku dan ada ikatan di kiri dan kanan pinggangku yang ramping.

Bulu-bulu halus kemaluanku tampak menyibak keluar dari sela sela secarik kain model segi tiga yang kecil ukurannya, tidak lebih dari ukuran dua jari hanya mampu membuat lubang vaginaku.

Bentuk G String yang kupakai memang sangat seksi dan sangat suka memakainya, ditambah tali nilon yang melingkar melewati selangkanganku tepat sesuai belahan pantatku ke atas bagian dan dilengkapi dengan tali nilon yang melingkar di pinggangku.

Dengan sekali tarik ikatan di kanan kiri pinggangku, maka tak sehelai benang pun kini menggantikan tubuhku, CD kubiarkan tergeletak di lantai.

Sambil telanjang bulat saya pergi ke kantor menggunakan celana pendek yang digunakan di bagian bawah yang terbuat dari bahan sutera untuk melihat dan ada celah di bagian kiri dan kanannya dan tanpa kancing, hanya menggunakan karet elastis saja.

Segera kukenakan sambil mengakses komputer dan mengakses internet. Namun tak jarang dan juga tidur berbusana sama sekali dan langsung menyusup ke dalam selimut.

Seperti biasa, email yang masuk ke kotak surat-ku sangat banyak. Kubuka satu persatu, bagi pengirim yang belum pernah mengirim email kepadaku langsung kujawab emailnya dan kucmark persyaratanku jika ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku.

sedangkan bagi yang sudah pernah kujawab emailnya belum bisa memenuhi persyaratan untuk tetap berkirim email ingin berkenalan lebih lanjut dan ber email ria, langsung saja kuhapus emailnya dengan tanpa memberikan balasan.

Demikian pula bagi yang mengirim pesan dengan menggunakan nomor HP-nya melalui SMS langsung saja kuhapus tanpa perlu membukanya terlebih dahulu.

Aku malas membukanya karena membuang-buang waktu dan biaya, toh aku juga tidak bisa membalas pesannya kecuali dengan menggunakan SMS, untuk apa saja aku harus bersusah payah membuang-buang pulsa segala, pikirku.

Setelah selesai dan membalas semua email yang masuk, kuputus akses dengan internet, namun komputerku tetap kunyetin karena rencananya nanti semakin dingin, saya akan mengaksesnya lagi, karena biasanya akan lebih banyak lagi email yang masuk.

Kulepas celana yang kupakai dan aku pakai kamar mandi yang ada dalam kamarku. Kunyalakan air hangat mengisi bak mandiku kamar mandi. Sore ini aku ingin berendam sementara mencuri pegal-pegal yang ada di tubuhku.

Kutorehkan busa mandi secukupnya dalam udara hingga berbusa. Saat aku menunggu penuhnya udara, tiba-tiba saja tiba tangan berbunyi.

Jika kudengar dari deringnya, aku yakin ini datangnya dari salah satu pembacaku, karena memang bagi pembaca yang sudah memenuhi persyaratan, nomor handphonenya segera kumasukkan ingatan dan kukumpulkan dalam satu nada dering khusus. Kuambil tangan phoneku yang tergolek di atas meja komputer, dari layarnya tampil namanya Amin (nama samaran).

Cerita Lainnya:  Cerita Dewasa Suami Bermain Istri Membayar

“Yaa ..! Halloo ..! ”, Sapaku setelah mantra tombol Ya.

“Halo ..! Hai Lia ..! Apa kabar..? Lagi ngapain nich? ”, Sahut Amin dari seberang.

“Aku sedang mau mandi nich! Emangnya kenapa dan ada apa menelepon? Entar aja deh kamu telepon aku lagi ya, aku sudah bulat nich, sudah siap-siap mau berendam ”, belum selesai aku berkata, Amin langsung memotong pembicaraanku ..

“Eee .. Eeh! Tunggu dulu dong! Biar saja kamu berendam sambil tetap ngobrol denganku ”, pinta Amin.

“Baiklah”, jawabku membebaskan sambil meraih tangan yang bebas atau masuk ke kamar mandi.

Hand phone kuletakkan di meja wastafel dan kabel hands free menjulur ke arah telingaku, aku pun akhirnya berendam sambil mengobrol dengan Amin menggunakan hands free.

“Lia! Aku sekarang juga pergi ke kamar mandi, sekarang di kamar mandi aku melepaskan celana dan CD-ku, kondisiku sekarang juga sudah bugil nich! ”, Amin menjelaskan keadaannya saat itu padaku.

“Emangnya gue pikirin, lagian ngapain kamu ikutan bugil di sana?”, Ujarku.

“Lia! Aku ingin melakukan onani

sambil ngobrol denganmu, kamu tidak perang kan? Silahkan! Sekarang penisku sudah selesai kubasahi dan kuoles dengan sampo, sekarang mulai kuusap-usap sambil mengocok-ngocoknya, kamu dan juga cerita dong apa yang kamu kerjakan saat ini sambil memberiku rangsangan ”, pinta Amin lagi dengan memelas.

Mendengar penuturan Amin tadi, terus terang aku, terus terang, dan mulai terangsang hingga tanpa kusadari aku juga sudah mulai meremas-remas payudaraku. Karena aku pakai tangan bebas, maka aku tetap bisa bergaul dengan kedua tanganku tetap bisa bebas beraktifitas.

Kuceritakan pada Amin saat saat ini sedang terjadi kedua-duanya yang juga sudah mulai mengeras, puting susuku mendongak ke atas dan mulai kujilati sendiri ber ekspresi kiri kanan, ada sebuah aliran yang mengalir keluar dari liang senggamaku, pertanda aku sudah lanjut rangsangan hebat.

Sementara tangan kiriku tetap meremas-remas payudaraku, tangan kananku mulai turun ke bawah meraba dadaku, mengelus-elus sendiri pusarku, ke bawah lagi ke arah vaginaku sambil membawa kedua buah kakiku dan dimasukkan ke bak mandi hingga posisiku sekarang terkangkang lebar hingga memudahkan tangan kananku mengelus bagian luar vaginaku yang seperti ditumbuhi bulu-bulu halus.

Jari-jariku turun sedikit mengusap-usap bibir vaginaku sambil menggesek-gesekkan klitorisku. Aku mulai melenguh menikmati fantasiku, gesekannya kubuat seirama mungkin sesuai dengan keinginanku. Tiba-tiba saja suara yang terpengar Amin dari seberang sana ..

“Ooo .. Oocch! Liaa ..! Aku orgasme nich! ”, Suaranya membuat lirih, rupanya di seberang sana Amin sudah berhasil mencapai puncaknya, gila!

Dia pun sangat menikmati penuturanku melalui telepon sambil terus melakukan aktifitasnya sendiri, mendengarkan suara dan jari-jari tangan yang manis tepat waktu ke arah liang vaginaku yang sudah semakin berlendir, sementara jari-jari telunjuk kupakai menggesek-gesek klitorisku.

Rasanya benar-benar membuat darahku mengalir ke atas kepalaku. Pertama kali sulit masuk, namun lama-lamanya melalui beberapa kali gesekan, bibir vaginaku pun semakin merekah memudahkan jari-jari jariku masuk menembus liang vaginaku.

Kumainkan jari-jariku di dalam vagina, kuputar-putar di dalam hingga menyentuh dinding-dinding bagian dalam vaginaku, rasanya tidak kalah dengan batang kemaluan yang pernah masuk dan bersarang dalam liang vaginaku, bahkan lebih hidup rasanya karena bisa kukontrol sesuai dengan keinginanku.

baca juga : Kenikmatan Jepitan Maut Toket Lidya

Kugaruk-garukkan lembut pada dinding dalam vaginaku, ada kalanya kusentuhkan pada tonjolan sebesar ibu jari yang ada dan tersembul di dalam vaginaku, nikmat sekali rasanya.Aku juga akan segera mencapai puncak kenikmatan.

Cerita Lainnya:  Cerita Dewasa Berawal Dari Bioskop

Sekarang tiga jariku yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kananku kumasukkan seluruhnya ke dalam liang vaginaku, kutarik keluar masuk, kukocok-kaitan lebih cepat, sementara tangan juga membantu tangan, jari manis dan jari telunjuk tangan kiri kupakai menyibakkan bibir vaginaku, sementara jari tengahnya mengorek-ngorek klitorisku. Kocokan jari-jari tangan kananku semakin cepat. Aku terus melenguh.

“Ooh .. Oocch! Aa .. Aacch! ”, Badanku berguncang keras udara di dalam kamar mandi banyak yang tumpah keluar membasahi lantai kamar mandiku.

Badanku menggigil hebat, sekali lagi aku melenguh panjang, dan aku pun mencapai puncak syahwat. Badanku kini lemas tersandar di punggung bak mandi. Dari belakang sana kudengar suara Amin menanyakanku ..

“Gimana Lia, enak enggak?”, Setan .., umpatku dalam hati, masa masih bertanya enak atau enggak?

“Lia ..! Aku sekarang ke rumahmu ya? Kau kujemput dan kami check in terus melakukan hal yang sebenarnya yuk, ajak Amin.

Aku menolak dengan halus ajakan Amin. Setelah berbincang negatif aku pamit untuk mematikan panggilan dengan alasan akan melakukan sesuatu.

Akhirnya dengan berat hati Amin pun bersedia mematikan teleponnya, entah berapa banyak pulsa yang dia habiskan untuk melakukan hubungan seks melalui telepon denganku sambil beronani.

Terus terang saja walau sudah sering kontak dengan Amin dan kami juga belum dua kali bertatap muka, aku sedikit pun tidak berminat. Tingginya sekitar 165 centimeter, lebih pendek sedikit dariku, badannya agak kecil gendut, usianya 32 tahun, sudah beristri dan beranak tiga.

Wajahnya menurut ukuranku juga tidak ganteng, jadi biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa bagiku. Aku memang juga membutuhkan sarana menyalurkan libidoku namun tidak bisa dilakukan dengan siapa saja.

Dalam permainan seks, aku benar-benar ingin menikmatinya, maka aku juga harus memilih pasangan yang benar-benar bisa menaikkan gairahku.

Sudah berkali-kali Amin mengajakku bercinta (ML) tapi selalu kutolak dengan seribu satu macam alasan, namun aku tetap tidak mengutarakan alasan penolakanku, karena aku akan langsung merasa malu dan tersinggung.

Maka lewat tulisanku ini, buatlah pembaca yang kuberi nama samaran Amin, aku mohon maaf dan aku harap Anda juga bisa menulis tahuanku ini dan dapat mengerti.

(Visited 126 times, 1 visits today)
Categories
WhatsApp chat