Kenikmatan Jepitan Maut Toket Lidya

Bokep JepangAugust 30, 2018

FilmBokepJepang – Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah masuk dalam kemacetan jalan dari kampusku. 
Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan satu jam dalam waktu lalu-lintas Jakarta yang begitu membosankan. 

Setelah memarkir mobilku, aku akan menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa berkata tanpa menutupi pintu kamar. 

Baru saja mataku tertutup, tiba-tiba saja kita tiba-tiba dengan ketukan pada pintu kamarku yang dikirim dengan teriakan nyaring dari suara yang sudah sangat aku kenal.

“Ko, loe baru pulang yah?” Gelegar suara Voni kuat mataku untuk memilih asal suara itu.

“Iya, memangnya ada apa sih teriak-teriak?” Jawabku sambil menjahit sambil mengucek mataku.

“Ini gue mau kenalin sepupu gue yang baru datang dari Bandung” jawabnya sambil tangan kirinya menarik tangan seorang cewek masuk ke kamarku.

Kuperhatikan cewek yang disebut Voni sebagai sepupunya itu, sambil tersenyum aku menyodorkan tangan kananku kearahnya “Hai, namaku Riko”

“Lydia” jawabnya sebentar sambil tersenyum kepadaku.

Sambil membalas senyumannya yang manis itu, matakuemu sesosok tubuh setinggi kira-kira 165 cm, meskipun dengan sedikit montok, namun kulitnya yang putih bersih seakan-menyuntiknya.

“Riko ini teman baik gue yang sering gue ceritain ke kamu” celetuk Voni kepada Lydia.

“Oh ..”

“Nah, sekarang kan loe udah nyemain tau nama masing-masing, lain kali kalo ketemu kan bisa saling memanggil, gue mau mandi dulu yah, daag ..” kata Voni sambil berjalan keluar dari kamarku.

Aku bersama perkataan Voni barusan dengan Kembali tersenyum ke Lydia.

“Cantik dan sepupu Voni ini” pikirku dalam hati.

“Lydia ke Jakarta buat liburan yah?” Tanyaku seharusnya.

“Iya, soalnya bosen di Bandung melulu” jawabnya.

“Loh, memangnya kamu nggak kuliah?”

“Nggak, sehabis SMA aku cuma bantu-bantu Papa aja, jantan sih kuliah.”

“Rencananya berapa lama di Jakarta?”

“Yah .. sekitar 2 minggu deh”

“Riko aku ke kamar Voni dulu yah, mau mandi juga”

“Oke deh”

Sambil tersenyum lagi dia berjalan keluar dari kamarku. Aku melihat kembali Lydia yang berjalan pelan ke arah kamar Voni. 
Kutatap BH hitamnya yang terlihat jelas dari balik kaos putih ketat yang membaluti cintanya yang bongsor itu sambil membayangkan ayah yang juga montok itu.

Setelah menutup pintu kamarku, kembali kurebahkan tubuhku ke neraka dan hanya dalam sekejab saja aku sudah terlelap.

“Ko, bangun dong”

Aku membuka kembali mataku dan menemukan Voni yang sedang duduk di tepi ranjangku sambil menggoyangkan lututku.

“Ada apa sih?” Tanyaku dengan nada sewot setelah untuk kedua kalinya dibangunkan.

“Kok marah-marah sih, udah bagus gue bangunin. Liat udah jampun masih belom mandi! ”

Aku menoleh ke arah jam dindingku sejenak.

“Jam 11, emang kenapa kalo gue belum mandi?”

“Kan loe janji mau ngetikin tugas gue kemaren”

“Aduh Voni .. kan bisa besok ..”

“Nggak bisa, kan kumpulnya besok pagi-pagi”

Aku cadangan bangun dan mengambil peralatan tanpa menghiraukan ocehan yang terus keluar dari mulut Voni.

“Ya udah, gue mandi dulu, loe nyalain tuh komputer!”

*****

Tulisan di layar komputerku entah mulai kabur di mataku.

“Gila, udah jam 1, tugas perkosaan ini belum selesai juga” gerutuku dalam hati.

“Tok .. Tok .. Tok ..” bunyi pintu kamarku diketok dari luar.

“Masuk!” Teriakku tanpa menoleh ke arah suara yang bersuara.

Terdengar suara yang terbuka dan kemudian ditutup lagi dengan keraszon membuatku akhirnya menoleh juga. 
Kaget juga waktu kudapati yang masuk adalah Lydia.

“Eh maaf, tutupnya terlalu keras” sambil terus tersenyum dia membuka percakapan.

“Loh, kok dan tidur.” Dengan jelas aku melihatnya lagi.

“Iya nih, nggak tau kenapa nggak bisa tidur”

“Voni mana?” Tanyaku lagi.

“Dari awal udah tidur kok”

“Gue dengarkan dari dia mengatakan elo lagi buatin tugasnya yah?”

“Iya nih, tapi belum selesai, sedikit lagi sih”

“Emang ngetikin apaan sih?” Sambil bertanya dia mendekatiku dan menyembunyikan tepat kursiku.

Aku tidak menjawabnya karena tubuh yang dekat dengan mukaku dan posisiku yang duduk di tempat yang tepat di samping ayah. 

Dengan menolehkan kepalaku sedikit ke kiri, aku dapat melihat lengannya yang mulus karena dia hanya menggunakan baju tidur tanpa lengan. 

Sewaktu dia mengangkatnya untuk merapikan rambutnya, aku bisa melihat juga sedikit bagian dari BHnya yang sekarang berwarna krem ​​muda.

“Busyet .. loe harum amat, pake parfum apa nih?”

“Bukan parfum, lotion gue Kali”

“Lotion berbicara, bikin terangsang nih” candaku.

“Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?” Tanyanya sambil tersenyum kecil.

“Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya”

“Masa sih? berarti sekarang udah terangsang dong ”

Agak terkejut dan aku mendengarkan pertanyaan itu.

“Jangan-jangan dia lagi memancing gue nih ..” pikirku dalam hati.

“Emangnya loe nggak takut kalo gue terangsang sama elo?” Tanyaku iseng.

“Nggak, memangnya loe kalo terangsang sama gue juga berani ngapain?”

“Gue cium loe ntar” kataku memberanikan diri.

Tanpa kusangka dia melangkah dari arah kiri ke arah depanku di tengah-tengah tempat aku duduk dengan meja komputerku.

“Beneran berani cium gue?” Tanyanya dengan senyum nakal di bibirnya yang mungil.

“Wahempatan nih” pikirku lagi.

Aku bangkit berdiri dari dudukku sambil mendorong kursiku sedikit ke belakang berdiri tepat di hadapannya.

Cerita Lainnya:  CERITA SEX SEKRETARIS PERAWAN DIPERKOSA ATASAN

Sambil mendekatkan mukaku ke dimensional aku bertanya “Bener nih nggak marah kalo gue cium?”

Dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaanku. Tanpa pikir panjang aku segera mencium lembut bibirnya. 
Lydia memejamkan mata sebagai penerima menerima ciumanku. 

Kumainkan ujung lidahku pelan ke mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut dan saling memutar kompilasi bertemu. Sentuhan erotis yang kudapat membuat saya semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidahku. 

Sambil terus menjajah bibirnya aku menuntun pelan Lydia ke ranjang. Dengan mata masih terpejam dia menurut kompilasi kubaringkan di ranjangku. Erangan halus yang didesahkan olehnya membuatku semakin bernafsu dan segera saja lidahku berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke daerah dadanya.

Setelah menanggalkan bajunya, kedua tanganku yang kususupkan kegeraknya sibuk mencari tahu BH-nya dan segera saja kulepas jadi aku temukan. 

Dengan satu tarikan saja terlepaslah ayah dan dua bukit putih mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah didepanku. Kuremas pelan dua susunya yang besar tapi sayang tidak begitu kenyal. Uangnya sedikit lembek. 

Menaruh susunya yang mungil tak luput dari serangan lidahku. Setiap aku jilati puting mungil tersebut, Lydia mendesah pelan dan itu membuatku semakin terangsang saja. Entah bagaimana kabar penisku yang sedari tadi telah tegak dan terjepit di antara celanaku dan selangkangannya.

Putingnya yang kecil memang sedikit menyusahkan buatku saat disembur dari toket kiri ke kanannya, namun desahan juga gerakan-gerakan tubuh yang menandakan dia juga terangsang membuatku tidak tahan untuk segera bergerilya ke perutnya yang sedikit berlemak. 

Namun, aku sudah menambah lagi celananya, tiba-tiba saja tiba dia menahan tanganku.

“Jangan Riko!”

“Kenapa?”

“Jangan terlalu jauh ..”

“Wah, masa berhenti setengah-setengah, nanggung nih ..”

“Pokoknya nggak mungkin” setengah berteriak Lydia bangkit dan duduk di ranjang.

Kulihat dua susunya dengan anggunnya di hadapanku.

“Kasihan ama ini nih, udah berdiri dari tadi, masa disuruh bobo lagi?” Tanyaku sambil menunjuk ke arah penisku yang membusung menonjol dari balik celana pendekku.

Tanpa kusangka lagi, tiba-tiba saja Lydia meloroti celanaku plus celana dalamku sekalian.

Aku hanya diam saja dia melakukan hal itu, pikirku mungkin dia berubah pikiran.

Anda bisa menggenggam penisku dan dengan pelan mengocok penisku naik turun dengan irama yang teratur.

Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia sambil terus mengocok batang penisku tetapi lebih lama semakin cepat.

Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegubakin tak beraturan dibuatnya, tapi aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah dua kali montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya .

baca juga : Tina , Asisten Dokter Gigi

“Lyd .. mau keluar nih ..” lirih kataku sambil memejamkan mata meresapin kenikmatan ini.

“Bentar, tahan dulu Ko ..” jawabnya sambil melepas kocokannya.

“Loh kok dilepas?” Tanyaku kaget.

Tanpa menjawab pertanyaanku, Lydia mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan dua susunya yang besar itu. 

Sensasi luar biasa aku hasil dari penisku yang dijepit oleh dua gunung kembar itu membuatku terkesiap menahan napas. 
Sebelum aku melakukan apa-apa, dia mengocok penisku yang terjepit di antara dua bagian yang sekarang menggunakan menggunakan kedua gravitasi.

Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun ikut merasakan kenikmatan yang lebih besar dari kocokan dengan energi tadi.

“Enak nggak Ko?” Tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.

“Gila .. enak banget Sayang .. terus kocok yang kencang ..”

Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah pahanya yang mulus. Sesekali putar arah ke bagian untuk mengakses pantatnya yang lembut.

“Ahh .. ohh ..” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya.

Kocokan dan jepitan susunya yang semakin keras membuatku lupa daratan.

“Lyd .. aku keluar ..”

Tanpa bisa kutahan lagi semprotan lahar musim panasku yang kental segera menyembur keluar dan membasahi lehernya dan sebagian daerah dadanya. 

Seluruh tubuhku lemas seketika dan hanya bisa bersandar di dinding kamar. Aku melihat nanar ke Lydia yang saat itu muncul dan mencari jaringan untuk membersihkan bekas spermaku. jika menemukan apa yang dicari, sambil tersenyum lagi bertanya

“Kamu seneng nggak”

Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.

“Jangan bilang siapa-siapa yah, buanglah sama Voni” kata menuntutku sambil memakai kembali BH dan bajunya yang sebelumnya kulempar entah kemana.

“Iyalah .. masa gue bilang-bilang, nanti kamu nggak mau lagi ngocokin gue”

Lydia hanya tersenyum padaku dan setelah menyisir rambut panjangnya dia pun beranjak menuju pintu.

“Gue bersih-bersih dulu yah, abis itu mau bobo” sela sebelum membuka pintu.

“Terima kasih yah Lyd .. besok kesini lagi yah” balasku sambil menatap pintu yang kemudian ditutup kembali oleh Lydia.

Aku memejamkan mata terpisah untuk mengingat kejadian yang barusan Terbalik, tidak ada yang bisa saya lakukan seperti ini. 

Tak sabar aku menunggu tahukah tiba, orang yang tahu bisa mendapatkan lebih dari ini. 

Mungkin saja ada satu hal yang bisa saya temukan dari lubang surga, yang pasti aku harus ingat untuk menyediakan kondom di kamarku dulu.

(Visited 291 times, 1 visits today)
Categories
WhatsApp chat