Tina , Asisten Dokter Gigi

Bokep JepangAugust 30, 2018

FilmBokepJepang – Aku, Haryanto (nama samaran), maksud singkat Yanto. Setelah bekerja 2 tahun lebih, aku dipindahtugaskan ke kota B ini, tidak seramai kota besar asalku, tapi cukup nyaman.

 Aku dipinjamkan rumah kakak perempuanku yang membersihkan mendampingi kekuatan di luar negeri. Sekaligus menjaga dan merawat rumah, ditemani seorang mbok setengah tua yang menginap, dan tukang kebun harian yang pulang tengah hari.

Dua bulan sekali aku tinggal di rumah ini, biasa-biasa saja. Oya, rumah ini berlantai dua dengan kamar tidur ada lima, tiga lantai dan dua lantai di atas. 

Lantai atas untuk keluarga kakakku, jadi aku membantu lantai bawah. Di samping kamar tidur saya ada ruang kerja. Aku biasa bekerja disitu dengan seperangkat komputer, internet dan lain-lain.

Suatu saat, seorang dokter giri, drg Retno, ditemani asistennya, Tina. Mereka mau mengkontrak satu kamar dan garasi untuk prakteknya. Untuk itu perlu cetakan dulu. 

Aku mendorong kakakku melalui sarana komunikasi yang ada, minta persetujuan. Dia harus meminta tanya ini. Maka mulailah pekerjaan renovasi dan akan selesai 20 hari lagi.

Sementara itu, drg Retno menugaskan Tina untuk tinggal di kamar tidur… Dikontrak juga, disamping garasi yg hampir siap disulap jadi ruang praktek. Mulailah dua anak manusia berlainan jenis dan tinggal serumah….

Sudah dua minggu Tina tinggal di rumah ini. Dia biasanya membawa makan sendiri, aku ikut makan bersama dia jika istirahat masakan mbok dirasa kurang. 

Tina berlaku biasa saja mulanya, dan aku tidak berani lancang mendekatinya. Tina berperawakan hampir sama tinggi denganku, tidak gemuk tetapi tidak kurus. Selalu berpakaian tertutup. Tidak bisa melihat bagian yang ingin kupandang. Wajahnya cukup manis.

Suatu hari, mbok minta ijin pulang kampung setelah bekerja 9 bulan lebih tanpa menengok anak cucunya. Aku mengijinkan mbok pulang. Mbok akan minta tolong pembantu tetangga menyediakan makanan untuk aku selama mbok pulang.

Nah, pagi hari itu aku pergi ke mbok ke setasiun bus dengan mobil kantorku, baru untuk mengambil dan pergi ke kantor. 

Tina pergi ke klinik dokter gigi Retno dengan motor, biasanya jam setengah lebih pagi sudah kabur dan pulang jam lima atau enam petang, tergantung pada pasien. Untuk praktisnya, masing-masing membawa kunci rumah sendiri.

Sakit hari setelah mbok pergi itu pemandangan rumahku sepi. Aku pulang jam empat sore sakit dan selesai melihat-lihat kebun dan mengambil daun-daun kering lalu membuangnya di tempat sampah. Tina baru sampai di rumah sekitar jam setengah enam, tanpa aku tahu.

 Dia tidak ada di jendela memandangku bekerja di kebun. Ketika matahari sudah doyong ke Barat, aku baru melihat ke jendela dan nampak Tina tersenyum di baliknya. Aku masuk rumah. “Sudah lama kamu datang, Tina?” Dia mengangguk. “Aku melihat kamu bekerja di kebun, pemandangan indah, laki-laki rajin bekerja keras … Kagum aku dibuatnya.”

Aku tertawa sendiri, lalu masuk kamar untuk mandi. Kamar mandiku ada di dalam kamar tidur, bisa juga bebas masuk keluar atau dengan melilitkan handuk saja, seperti sakit itu. Keluar kamar mandi, aku terkejut, karena Tina ada di kamar tidurku. 

“Aku masuk tanpa permisi, maaf ya, kamu marah?”

Aku jawab, “Ah tidak, masak marah sih, terima perempuan seksi dan manis…? 

Aku mau tukar baju, kamu mau tetap di sini atau…? ”Tina tersipu.

“Oh, mau buka handuk, gitu? Aku tunggu di sofa, mau ada perlu sama kamu. ”Tina keluar kamar.

Aku pakai kaos oblong dan celana boxerku, lalu menghampiri Tina di sofa, duduk di sebelahnya. Dia menjauh.

 “Kamu sudah mandi, aku belum… nanti kamu nggak betah di dekatku ..” Aku cuma tersenyum saja. 

“Ada pelu bicara apa, Tina…?”

Dia bimbang, lalu, “Aku mau numpang mandi di kamar mandimu. 

Ada shower air hangat kan? Pemanas air di kamar mandiku rusak, mbok belum pernah memanggil panggil tukang…

”Sambil senyum, aku jawab,“ Tentu saja, tapi pintu kamar mandi tidak dikunci, sulit membukanya. 

Tenang, aku tidak akan mengintip kamu mandi, jangan takut … ”Tina tertawa,“ Tidak ngintip tapi langsung melihat…? Mana ada laki-laki.

”Aku malu mendengarnya. “Ah, kamu bisa saja …” itu jawabku sambil menggantung bahunya. 

“Tuh, mulai ya, ..?” Kata sambil setengah berlari masuk ke dalam ruangan mengambil handuk dan lain-lain.

Dua puluh menit berlalu, Tina sudah kembali duduk disampingku. Bau wangi menyergap hidungku. “Eh, Yanto, mau nggak antar aku suka kacang rebus atau goreng di simpang jalan?” Tolong aku mengiyakan.

Lima menit kemudian Tina dan aku bergender dengan tangan ke penjual kacang, sekitar 500 meter. Sepulangnya, tangan Tina menggandeng lenganku dan aku melambaikan tanganku. Serrr, darahku berdesir, jantungku berdegub kencang. 

Ibu – ibu di warung dekat situ nyeletuk, “Wah bu dokter sudah punya calon suami … selamat ya?” Tina tertawa kecil. Ibu-ibu itu sudah akrab dengan Tina, mempersilahkan mampir untuk menanyakan tentang kesehatan giginya. 

Sempat terdengar Tina melayani salahsatu dari mereka sambil menggali mulut si pasien kampung itu dengan batere kecil, lalu menyuruhnya datang ke klinik besok pagi. Semua pikiran dijawab dengan ramah. Aku jadi kagum dengan privasi Tina. Pantes kliniknya ramai setiap hari.

Pulang rumah, aku dan Tina duduk di seputar meja makan sambil menikmati kacang rebus dan goreng. Sementara itu aku tetap mencuri-curicong, atau turun ke dadanya. 

Tetap tidak kelihatan apapun. Tina seorang perempuan yang tetap menjaga kesusilaan, pikirku. Jadi, apakah aku bisa menikmatinya, waduh, mengajaknya tidur bersama, pikiranku melayang ke arah hal-hal yang erotis. 

Tina menyudahi makan kacang karena kenyang, katanya, lalu bangkit ke tempat sikat gigi (wastafel). Aku merapikan meja makan, lalu, Tina untuk sikat gigi di sampingnya.

Tanganku mulai nakal. Aku nekadebutuhan bokongnya, meremas lalu merangkul pinggangnya. Tina seakan kaget, lalu menepis tanganku sambil sedikit menatapku sementara mulutnya masih penuh busa.

Tina berkata, “Jangan mulai nakal…” Lalu dia membalas mencubit bokongku dan meninju punggungku. “Nih, rasakan, ya …” Dia mencubit berkali-kali dan meninju juga. 

Lama-lama aku merasa sakit juga, lalu kutangkap semangat dan kutarik ke depan, tetapi dia berontak dan lari ke sofa. Selesai sikat gigi, aku duduk disebelahnya. 

“Kamu masih marah, Tina?” Dia menutup matanya, lalu… menubruk dadaku seraya menangis.

 Aku ingin sekali sekali. “Kamu ini…. Kamu ini … bikin aku gemes! Aku jadi nggak tahan lagi. 

Dadamu basah ya, dengan mataku udara. Buka saja kaosmu… ”Aku menurut, dia kembali membenamkan pemandangan di dadaku, lidahnya menjilati putingku. 

Bibirnya menciumi dadaku ke kiri dan ke kanan samapi ke lipatan ketiakku. Saat lidahnya mau menjilat ketiakku, segera kurapatkan pada pihak dia gagal.

 Wajahnya nampak kecewa. Berbisik, “Kenapa? Nggak mau ya? ”Aku jawab,“ Nanti kamu nggak tahan baunya, bau keringat laki-laki. 

Tina, aku ada Permintaan… ”Tina menjawab lirih,“ Minta apa? “Kujawab,“ Mau nggak orang tidur di kamarku bersama aku? ”Tina diam saja, tidak mau menjawab. 

Wajahnya sudah bergerak menjauh. Aku takut dia marah. Lalu berbisik, “Kalau aku bilang… tidak mau, kamu marah?” Aku jawab, “Aku tetap membujuk sampai kamu mau. Sinar mata dan wajahmu mengatakan kamu mau… ”

Tiba-tiba tiba Tina bangkit dan berjalan ke kamar. Di pintu masuk kamar, dia memalingkan orang lalu menggapai aku untuk mendekat. Aku segera bangkit, menuju kamar. 

“Kamu saja yang tidur di sini, mau?” Aku menggelengkan kepala. “Kamar mandi untuk kamu kan ada di kamar tidurku, gampang untuk segala keperluan …” Tina tersenyum mengangguk. 

“Kalau begitu, kamu tunggu di kamar, ya, dan aku beri kamu.” Jantungku Hampir berhenti berdetak mendengarnya. (Tina mau lho, tidur denganku …!)

Saya akan ke kamarku, lalu merapikan ranjang, melipatgandakan diemas. Tak lupa mengoleskan krim tahan lama pada kepala keluarga, lalu memakai sarung setelah melepaskan semua pakaian.

Belum satu menit, Tina sudah berdiri di depan pintu kamar. Melihat saya memakai sarung, dia berkata, “Kamu ada sarung lagi? Aku ingin memakai.

 Rasanya praktis ya? ”Aku mengangguk sambil membuka lemari pakaian, mengambil sarung lagi, kuserahkan kepada Tina. Dia membawa sarung itu ke kamar mandi, melirik manis sambil berkata, “Jangan ikut masuk, ya?” Aku tertawa saja, lalu berbaring bertelanjang dada sampai pinggang. 

Sarung itu menyembunyikan bagian bawah setelah pinggang. Tina keluar kamar mandi dengan menutupi bagian dada sampai pinggul. Dia menanam pakaiannya, termasuk BH dan celana dalam kuning, di meja. Dia melirik sambil tersenyum, “Lihat BH dan celana dalamku? Nih, biar puas melihatnya.

Dia mendekatkan diri untuk memajang BH dan celana itu ke dekat wajahku. Aku mendekatkan hidungku pada celana itu,

Dua detik kemudian, dia merebahkan diri di sebelahku. Aku melihat wajah, berpandang-melihat selama beberapa puluh detik. Kudekatkan bibirku pada pipi, dahi, lalu… ke bibirnya. Dia melumati bibirku, perlahan mulanya. Lalu perlahan-lahan, mulut kini mulutku bisa mengeluarkan mulutnya sambil bergoyang ke kiri ke kanan, lalu lidahku bertemu lidahnya. 

Tina menghembuskan napasnya seperti tersengal, lalu kembali buat mulutku bergantian. Lengannya merangkulku, dan kini, yah, benarlah, dadaku bersentuhan dengan buah dada Tina yang kencang mencuat dan berputing keras. Dalam berahi yang makin membara, aku dan Tina sudah tidak mengeluarkan apa-apa lagi.

 Tiga gerakan cukuplah lepas sarung-sarung itu, tubuh Tina yang telanjang bulat sudah nempel erat dengan tubuhku. Dia memerintahku telungkup di atas tubuhku yang telentang, sambil terus berbicara dan mengeluarkan mulut seraya bergoyang-goyang ke kiri kanan dan buah dadanya menggeser-geser di dadaku. 

Aku sudah terbawa ke awan yang tinggi. Lenganku merangkul tubuh erat-erat, jembut Tina bergesekan dengan jembutku, aduh bukan utama nafsuku berbaur dengan nafsu Tina.

Kemaluanku yang sudah keras itu bergesekan dengan bibir kemaluan Tina, pahanya gerak-gerak tegas menjepit pahaku tepat menindih dan entah gerakan apa lagi.

Sebelas menit kemudian Tina melepaskan diri, mengangkat tubuh sambil memandangku. 

“Bagaimana rasanya, enak dan nikmat ..?”

Aku jawab, “Bukan utama … Tina, oh ina, buah dadamu .. padat mencuat, aku melayang sekali.

 Kamu bisa nggak… jembut kita beradu? Jembutmu yg lebat, menambah nikmatnya….

”Belum lagi Kalimat selesai, Tina sudah menindihku lagi, kali ini dia membuka lengannyapun bisa menjilat ketiaknya yang halus tidak berambut. 

Kuciumi ketiak Tina beberapa saat, dan badan menggelinjang.

 “Ohh, Yan… Yanto… geli sekali rasanya…” Aku pindah ke ketiak yang satu lagi, dan Tina Kembali menggelinjang. 

“Kamu doyan ya, menilat ketiak cewek?”

Kujawab, “Ketiakmu harum dan indah bukan main. … siapa yang bisa tahan terang tidak dicium? ”Kujilati terus kedua ketiaknya, dan Tina mengaduh-aduh penuh nikmat. 

Didadaku masih terasa buah dadanya menggeser-geser. Bergoyang terus-menerus, sampai pada kompilasi, dia setengah berteriak, “Yanto… aku nggak tahan…. Ayo kamu di atasku… ”

Aku memuntahkan tubuhku dalam tubuh Tina. Kedua lengannya merangkul punggungku, “Duh, .. tubuhmu sungguh kekar… aku sangat menikmati…. Ohh…. ”Kami sedang menindih buah dadanya, sambil mulutku mengobati-isap dan isap mulutnya. 

Lidah Tina masuk ke dalam mulutku dan kuisap, alu Atur lidahku menemukan mulutnya. Tina mengggelinjang, lalu membuka kedua pahanya.

 “Masuk kemaluanmu…. pelan-pelan ya, besar sekali kemaluanmu… ooohhh… sudah… sudah masuk semuanya… oohh nikmatnya… nikmatttt sekali… .. ”Bergaya bergoyang naik turun semakin cepat dengan gerakan naik turun pinggulku.

Terasa seksku dijepit dan disedot kemaluannya. Aku mengeluh, “Tina, pemilikmu sempit… duhh nikmatnya dijepit dan… disedot kemaluanmu… ooohhh Tina…” Dia menjawab, “Yan… jangan keluar dulu ya…. Aku masih ingin lama nih, menikmati … persetubuhan ini ..

Gerakan tubuhku dan Tina menimbulkan bunyi kecupak-kecupak saat istriku melewati jembut dan kemaluannya yang sudah basah.

 Aku bertanya, “Tina, boleh kujilat jembutmu, … kemaluanmu ….??” Ia menggelengkan kepala, walau mulutnya masih dalam mulutku.

 “Jangan sekarang,… jangan dilepasss… nanti saja… oohh,… nikmatnya…” Aku menggeserkan tubuh Tina kesamping, supayua dia tidak kepayahan karena beban tubuhku. Dia berbaring disampingku sambil lidahnya terjulur minta diisap. 

“Tina,…. Aku minta ludahmu… ”Dia menjulurkan lidahnya, kali ini penuh ludahnya

Segera kuisap dan kusedot mulutnya dan kuisap ludahnya semua. Tina menggelinjang. “Kamu di bawah, mau …” Aku menggeser kembali, telentang di bawahnya.

Tubuh Tina semuanya menindih tubuhku, buah dadanya Kembali bergeser-geser. Kemaluanku berhasil masuk dari bawah, dibantu tangan Tina. 

Tina mengdesah, “Ooohh… aduhhh… nikmatnya, aduuhh… kemaluanmu……. Kemaluanku penuh kemaluanmu, ohhh… terus, Yanto, terus genjot dari bawah…. Oohh…. Ohhh, nikmat sekali,…. “Gerakan tubuh Tina dan aku semakin cepat sampai,“ Aku tidak…. Tidak tahan lagi…. Mau keluar…. Oohhh… keluar… Yanto…! Aku sudah keluar…. teruskan, teruskan…. Masih nikmat…. Mau lagi .. Yanto…. Kemaluanmu… nikmat sekali… .. adu jembut, nambah nikmat…. Aku mau keluar lagiiiii…! Yanto, aku… nggak tahan,… keluar lagi, sudah dua kali… sekarang kamu dong, semprotkan manimu… ooohhh… ohh… terus Yanto, kamu harus puasss… ”Aku bergerak terus, tapi senjata krim tahan lama membuatku tidak gampang keluar. 

“Gerakan tubuh Tina dan aku semakin cepat sampai,“ Aku tidak…. Tidak tahan lagi…. Mau keluar…. Oohhh… keluar… Yanto…! Aku sudah keluar…. teruskan, teruskan…. Masih nikmat…. Mau lagi .. Yanto…. Kemaluanmu… nikmat sekali… .. adu jembut, nambah nikmat…. Aku mau keluar lagiiiii…! Yanto, aku… nggak tahan,… keluar lagi, sudah dua kali… sekarang kamu dong, semprotkan manimu… ooohhh… ohh… terus Yanto, kamu harus puasss…

”Aku bergerak terus, tapi senjata krim tahan lama membuatku tidak gampang keluar. 

“Gerakan tubuh Tina dan aku semakin cepat sampai,“ Aku tidak…. Tidak tahan lagi…. Mau keluar…. Oohhh… keluar… Yanto…! Aku sudah keluar…. teruskan, teruskan…. Masih nikmat…. Mau lagi .. Yanto…. Kemaluanmu… nikmat sekali… .. adu jembut, nambah nikmat…. Aku mau keluar lagiiiii…! Yanto, aku… nggak tahan,… keluar lagi, sudah dua kali… sekarang kamu dong, semprotkan manimu… ooohhh… ohh… terus Yanto, kamu harus puasss…

”Aku bergerak terus, tapi senjata krim tahan lama membuatku tidak gampang keluar.

Aku berbisik, sambil lidahku menjilati lehernya, “Tina, masih nikmat… atau mau ke kamar mandi dulu, lalu terhormat sambil istirahat 30 menit dan… .. mulai babak kedua…?” Tina berbisik mesra. 

“Aku mau, Yanto, berkali-kali liburan suntuk bersetubuh dengan kamu…. Sekarang ke kamar mandi dulu…

“Dia beringsut mau turun ranjang, menggantikan menggapai jaringan lalu mengelap kemaluannya.

 Lalu berjalan beringsut sambil terus mengeluarkan jaringan di kemaluannya. Aku menghabiskan dia. Kemaluanku basah dengan air mani Tina, tetapi tidak sampai mengucur.

Di kamar mandi, Tina berbisik, “Yanto, kamu… hebat… sebagai laki-laki, bisa memuaskan aku berkali-kali.” Aku jawab, “Baru dua kali, Tina…“ Dia tersenyum, berbisik, “Semalam suntuk bisa berapa kali, ya? Aku kepningin terus, berahiku tidak…. tidak terbendung, sudah memenangkan berhari-hari. 

Untung mbok pergi ya, jadi kita bebas…. ”Aku menunduk, lalu kuserbu kemaluannya, kuciumi jembutnya, kujilati kemaluannya sampai dia kembali nikmat. 

“Duhh, Yanto,… kamu ganti lagi… ooh… ohh, aku terangsang… ayo balik ranjang… tapi, aku mau menyatukan pendudukmu dulu… waduh, sudah tegang lagi…

” Mulutnya mengulum, memproses diriku beberapa menit. 

“Tinaaa…. Sudah, sudah, dan aku di dalam mulutmu, mengatakan sekali.

 Lebih nikmat crot di dalam kemaluanmu…

”Tina tertawa, “Nggak kuat ya? Pakai krim lagi? Biar kuat berjam-jam? ”Aku mengangguk lalu memeluk tubuh Tina, buah dadanya kembali nempel dipinggangku.

“Tina, … kenal buah dadamu, nikmat …”

Sampai di ranjang, kembali dia menindihku. 

“Kamu di bawahku dulu ya … Eh, belum pakai krim?” Aku beringsut ke meja lalu mengoleskan krim di kepala klinikku.

 “Nih, sudah pakai krim. Tidak takut crot dulu, sejam lagi rasanya. ”Kembali tubuhku ditindih Tina, mulutnya kembali menyeruput mulutku, buah dadanya pindah ke kiri kanan di dadaku, aduh nikmat sekali. 

“Kamu nafsu lagi, Tina?” Dia mengangguk,

“Ya, kali ini sampai sejam baru aku keluar…. Ketiga Empat, Lima …. “

Aku menikmati posisi begini (sebutannya Woman on top missionary sex ) selama sekitar 25 menit, terus menerus menyeruput mulut Tina, ludahnya, merangkul erat tubuh, mencengkeram bokongnya yang aduhai, dan seterusnya.

Tina juga menikmati perannya, memandang wajahku dengan sayu, menjulurkan lidahnya, masuk ke mulutku serayaunci seluruh rongga mulutku, muntah, mengisap, menyedot, menyedot, terus menerus. 

Dengan beralih ke kiri ke kanan, maka terasalah jembutnya bergesekan dengan jembutku, kadang-kadang menuruni pahaku agar bisa menggeser-geser yang sudah basah itu.

Setelah sekitar 25 menit itu, Tina melenguh dan mendorongku mengenai bergeser ke samping, lalu berbisik, “Kamu naik ke atas ya … aku sudah nggak tahan, ingin dimasuki kemaluanmu …. Yang lama dan dalam,… jangan cepat-cepat,…. putar pinggulmu, nah gitu… .ooh… nikmatnya, Yanto, terus… nikmatttt sekali…. Mauku sih yang lama,…. terus,… sekarang kemaluanmu…

benamkan ke dalam kemaluanku, terus… .. yang dalam… ohh, ohh, mmm… mmm… ”Mulutnya kusedot sedot terus, dan dia membalas sedotanku, jadi cuma bisa mengeluarkan suara… mmm…. mmmm…. ahh … ahhh ..

Sementara dadaku menindih buah dadanya, nikmat sekali. Buah dada yang mencuat dan kencang. Tiap lelaki pasti akan menikmatinya dalam posisiku ini. 

Aku sendiri mendesah kencang sambil menggerakkan pinggulku, naik turun dan putar-putar. “Tin… ooohh… jembut…. jembut kita…. beradu… nikmat sekali ya…? ”Tina mendesah dalam mulutku, mmm… lalu menjawab,“ Betul… jembut ketemu jembut…. dadamu menindih buah dadaku… nikmat sekali, Yantoooo… aku nggak tahan lagi… aku mau keluar lagi… Yantooo…. aku… keluar… crot crot…. Oohhh… nikmatnya…. ”

Lengannya melingkari tubuhku dengan kencang.

 “Yanto,… tubuhmu… enak sekali kurangkul… kekar,… begitu jantan… nikmat sekali .. jangan lepas dulu ya…. teruskan, Yantoooo… aku masih bisa lagi,… ”

Aku gerakkan pinggulku naik turun terus, kurasakan batang istriku disedot dan dijepit kemaluan Tina… Kemaluannya berkedut-kedut… Untung aku pakai krim tahan lama. 

Siapa yang bisa melakukan itu, saya akan melakukannya dan disedot begitu. Sekitar 12 menit, Tina kembali mengeluarkan panjang dalam mulutku, lalu pinggulnya mengejang keras dan … terasa lagi cairan yang membasahi hatiku di dalam kemaluan Tina. 

Dia terengah-engah, sambil mengisi mulutku dia berbisik, “Yanto… aku sudah keluar… empat kali ya?” Aku menjawab, “Ya, baru kali empat kali. Masih mau empat kali lagi sampai pagi? ”

Tina berbisik, “Istirahat dulu yuk, setelah bersih-bersih di kamar mandi. Kamu hebat sekali, ya, belum keluar juga udara manimu. Nanti aku mau inspirasinya ya, sisa-sisa udara manimu, dalam mulutku, kalau sudah keluar dalam kerumunanku….

”Dia menuntunku jalan ke kamar mandi sambil menempelkan buah dadanya di sampingku… Perasaanku sudah tidak karuan, lelaki Perlawanan dengan perempuan yang nafsunya besar dan tidak dapat dibendung lagi. 

Di kamar mandi, Tina mendekatkan muka ke wajahku sambil menjilati pipi dan leherku. “Yanto…. kamu jantan tulen… aku ingin terus dipeluk dan diapakan saja sampai Pagi…

“Lalu menyabuni kemaluannya dan mengusap kemaluanku, dan menyirami lalu mengelap dengan handuk. Tina berbisik,

“Mau kuisap… kemaluanmu?” Aku menolak, takut ngecrot di kamar mandi, lalu kepeluk dia menuju ranjang lagi.

Kembali dia telungkup di atas tuuhku, lalu berbisik, “Mau main 69?” Aku mau, lalu dia menggeserkan tubuh, berbalik arah. Buah dadanya menggeser di dada dan perutku.

 Mulutku sekarang persis berhadap dengan jembut dan kemaluannya, yang segera kujilat. Begitu juga dia, mulutnya menelusuri biji kemaluanku, lalu batangnya, dan menjilati ruas sebelum mengulum dengan penuh gairah.

 Dia mendesah kompilasi indra jembutnya kuciumi dan bibir kemaluan yang berwarna merah itu kujilati dengan sama cintanya. Posisi ini berlangsung selama sekitar 10 menit, menambah kenikmatan kenikmatan sampai akhirnya, lalu kuminta dia balik arah lagi. 

Kembali mulutku menciptakan mulutnya, bau jembut dan terasa asin. Dengan gairah penuh dia memperbaiki mulutku, menjulurkan lidahnya masuk keluar untuk beradu dengan lidahku. Buah dadanya bergerak kiri kanan di dadaku, nikmat sekali rasanya.

Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan main dengan boneka seks lagi. Kalah nikmat dibandingkan tubuh Tina. Lenganku melingkari punggung Tina, bokongnya kucengkeram dan kuelus. Tina mengerang,

“Aku nafsu lagi, Yanto…. kamu jadi pinter… semangat berahiku… ”

Dia mendorongku ke samping dan menarik tubuhku sampai menindih tubuh. Kembali kutindih buah dadanya, nikmat begitu. Mulutku menciptakan mulutnya, dan akunku masuk ke dalam kemaluannya, jembutku bergesekan dengan jembutnya. 

Pinggulku naik turun, Hiduplah, tambah kencang. Selang lima menit, Tina sudah kelojotan, mengerang dalam mulutku, lengannya mencengkeram punggungku, pinggulnya bergerak cepat naik turun dan kesamping, dan … Tina menjerit tertahan dalam mulutku. 

Kemaluannya kembali memuntahkan cairan yang hangat, kurasakan penyaluran disriam kesehatan tubuh. Dia sampai puncaknya lagi.

Dalam kondisi seperti itu, dia tetap memeluk aku. “Yantooo… terus yuk… aku masih bisa keluar lagi. Jangan lepas kemaluanmu, teruskan … 10 menit lagi aku crot … kamu dan kan? Aku mencium kemaluanmu sudah kedut-kedut. 

Ayo sama-sama keluar, biar puas bareng… mau?

”Aku mendesain sambil terus bergerak pelan, pinggulku naik turun. 

“Kamu ini, Tina… manis sekali… wajahmu bikin aku nafsu, buah dadamu bikin aku nggak tahan…. Timah, mau aku mau keluar nih, mana tahan sih, merasakan nikmatnya semua ini?

baca juga : Selingkuh Dengan BOS Susan Yang Bohai

Cerita Lainnya:  Cerita Dewasa Wisuda Adik ku Berakhir Nikmat Dan Bergairah

”Tina tersenyum mendengar kata-kataku, lalu memandangku. 

“Aduhai, Yanto… kamu pemuda ganteng… jantan,… pandai kue nafsu perempuan… ayo terus… aku mau nih…. ooh … nikmatnya …

”Tubuh Tina menggelinjang bawah tubuhku, mulutnya menyedot mulutku, terus… buah dadanya bergoyang ditugar dadaku.

Aku sudah tidak tahan lagi. Tadi lupa mengolesi krim tahan lama sekembali dari kamar mandi. Tuuhku bergerak naik turun dengan cepat, mengeluarkan bunyi kresek-kresek dan kecupak-kecupak membuat mulutku menciptakan mulutnya dan jembutku beradu dengan jembutnya. 

“Tina,… buah dadamu… bikin akau tidak tahannn… aku mau keluar nih…

” Tina mendesah, “Ayo, terus…. Aku juga mau keluar lagi… oohhh…. Yanto… mmm… ouww…. nikmat sekaliii…. “Aku sampai puncaknya. 

“Tinaaa…. Aku keluar…. Aku keluar… oohhh… nikmatnya buah dadamu, jembutmu, kemaluanmu… oouww…. “Maka crot-crotlah air maniku dalam kemaluannya. 

Aku ingat pesannya disisakan udara mani untuk masuk mulutnya. Kuarahkan kemaluanku ke mulutnya dan…. crot-crot lagi dua tetes udara mani dalam mulut Tina.

Beberapa menit aku tergolek di atas tubuh Tina, mengatur napas. Tina juga begitu. Tina puas empat kai rasanya, dan aku satu kali. 

Dia berkata sambil tersenyum manis, “Yanto, kita sama-sama keluar ya? Sama-sama puas? Besok malam mau lagi? Saban malam … Aku ini penuh nafsu, ya? Aku sayang kamu, bakal jadi cinta. ”Jadi, aku ke kamar mandi, bersih tubuh, tidur hingga subuh.

(Visited 174 times, 1 visits today)
Categories
WhatsApp chat